Subscribe RSS

Archive for the Category "pendakian"

Pendakian Gunung Tambora Sep 20

GUNUNG Tambora dengan ketinggian hanya 2.851 mdpl (meter di atas permukaan laut) mampu memikat hati para pendaki dengan pesona alamnya yang sangat unik. Maklum, selain panorama kawahnya yang memikat, gunung ini adalah gunung tertinggi di Pulau Sumbawa.

Puncak Tambora

Puncak Tambora

Selama ini hanya ada satu jalur pendakian Tambora yang dikenal dan biasa digunakan oleh para pendaki, yaitu melalui Jalur Desa Pancasila, Kecamatan Calabai, Kabupaten Dompu. Biasanya para pendaki naik dan turun melalui jalur ini.

Sebenarnya ada satu jalur lagi yang patut dicoba, yaitu naik melalui jalur Desa Doro Peti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu,  dan turun melalui jalur Desa Pancasila.

PENDAKIAN TAMBORA

Perjalanan ini akan kita mulai dari Mataram, jikalau Anda dari Surabaya atau Jakarta. Anda dapat menggunakan jalur darat maupun udara menuju Mataram.

Rute Mataram-Dompu :

Dapat Menggunakan  bis malam AC  yang berangkat dari Terminal Mandalika, di Bertais, Cakranegara setiap Jam 15.30. Terdapat beberapa perusahaan bis. Hati-hati dalam bernegosiasi dengan para calo bis di terminal ini. Sebaiknya anda langsung berhubungan dengan karyawan PO bus, daripada menghabiskan waktu bersitegang dengan para calo Terminal Mandalika  Harga berkisar antara Rp.120.000-150.000 (Agustus 2009), jika anda penawar harga yang ulet, anda bisa mendapatkan harga Rp. 120.000.

Rute Dompu-Doropeti :

Bis dari Mataram akan masuk terminal Ginte, Dompu, sekitar pukul  04.00 Subuh, anda harus menunggu angkutan yang akan berangkat menuju Doropeti, dengan tujuan akhir  sampai Calabai. Tarif Dompu-Doropeti  sebesar Rp. 20.000 (Agustus 2009), sedangkan jika sampai Calabai tarifnya sekitar Rp.30.000. Angkutan ini biasanya sangat penuh, agar mendapat tempat duduk di dalam bis, anda sebaiknya sudah masuk kedalam bis sejak bis pertama kali datang sekitar pukul 7.30 pagi. Bus ini akan berangkat sekitar pukul 08.30-09.00 Pagi. Perjalanan akan berkisar 6-7 Jam. Turun di depan Puskesmas Pembantu Desa Doropeti

Rute DesaPancasila-Dompu:

Bis untuk jurusan ini hanya tersedia 2 kali sehari, pukul 07:00 pagi dan pukul 15:00, bus yang biasanya berangkat pagi akan sangat sarat penumpang, seringkali penumpang yang duduk diatas kap bus jauh lebih banyak daripada penumpang yang ada di dalam bus. Tarif Rp. 35.000 (Agustus 2009), Baik yang duduk diatas kap, maupun di dalam bus, tidak ada perbedaan tarif.

Jalur Pendakian

Pancasila adalah nama kampung di kaki barat laut Gunung Tambora yang merupakan salah satu titik awal pendakian Gunung Tambora. Dari desa ini pendaki akan melewati jalur truk yang membawa kayu gelondongan. Untuk tiba di Pintu Hutan dari Desa Pancasila membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Kemudian akan sampai pada sebuah jalan kecil yang landai yang akan membawa para pendaki masuk kedalam hutan. Setelah beberapa lama berjalan, pendaki akan sampai di shelter Hingga akhirnya setelah menempuh sekitar 1 jam perjalan, Anda akan tiba di Pos 1. Di tempat ini Anda bisa beristirahat sejenak. Sumber air berada kira-kira 10 meter di sisi kiri jalan setapak yaitu berupa aliran air dari pipa pralon yang ditampung didalam drum plastik yang juga menjadi sumber air penduduk desa di kaki Gunung Tambora.

Dalam perjalanan menuju pos selanjutnya, karakter medan pendakian tidak banyak berbeda dengan sebelumnya yaitu masih landai, sesekali menanjak dengan vegetasi semak belukar yang cukup lembab. Namun, pada saat melintasi jalan setapak ini Anda harus waspada, karena populasi pacet yang cukup banyak siap mengintai Anda. Kemudian Anda juga harus berhati-hati begitu melintasi hutan yang pohonnya cukup besar-besar karena di beberapa tempat jalan setapak tampak seperti bercabang. Dan setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari pos sebelumnya Anda akan menjumpai sebuah pondok sederhana yang terbuat dari kayu dan beratapkan seng. Itu artinya Anda telah tiba di Pos 2. Sebagaimana di Pos 1, disinipun terdapat sumber air yang cukup yaitu berupa aliran sungai kecil yang letaknya juga tidak jauh dari pos.

menuju puncak

menuju puncak

Untuk menuju pos selanjutnya, dari Pos 2 jalur pendakin turun menuju sungai kecil. Setelah menyeberanginya kemudian jalur menanjak cukup terjal dan kembali landai dengan vegetasi hutan yang cukup lembab. Jika beruntung, Anda juga dapat menjumpai ayam hutan di sepanjang jalur ini. Anda akan terus melalui jalan setapak yang cukup bervariasi, landai dan sesekali menanjak serta harus melintasi beberapa pohon yang tumbang. Sampai kira-kira satu setengah jam perjalanan Anda akan melalui areal yang banyak ditumbuhi tanaman ilalang dan itu artinya Pos 3 sudah tidak jauh lagi. Di tempat ini juga terdapat pondok sederhana semacam rumah panggung yang berdinding setengah dan beratapkan seng. Areal sekitarnya cukup datar dan luasnya kira-kira dapat menampung 15 tenda dengan kapasitas 3-4 orang. Disini juga terdapat sumber air bersih yang letaknya kira-kira 250 meter dari pos. Itulah sebabnya pos ini biasa dijadikan sebagai pos terakhir atau tempat bermalam sebelum melanjutkan pendakian menuju bibir kawah atau puncak Gunung Tambora dini hari keesokan harinya. Biasanya pendakian menuju puncak dilakukan mulai pukul 01.30 atau dini hari, sebagaimana halnya yang saya lakukan. Untuk menuju puncak biasanya para pendaki hanya membawa perbekalan yang ringan-ringan saja sedangkan yang lainnya ditinggalkan di pos tersebut.

Summit Attack

Perjalanan menuju Pos 4 selepas pos sebelumnya, Anda akan menemui salah satu keunikan dari Gunung Tambora yaitu vegetasi hutan jelatang atau daun pulus. Tanaman yang daun dan batangnya penuh ditumbuhi duri halus itu akan membuat kulit Anda terasa gatal dan panas jika tersentuh. Untuk menghindarinya gunakanlah pakaian yang menutupi tubuh Anda. Hutan jelatang tersebut banyak tumbuh sepanjang jalur pendakian antara Pos 3 dengan Pos 4 yang dapat ditempuh sekitar 30 menit. Arealnya cukup datar berada di antara hutan pinus. Dalam perjalanan menuju pos selanjutnya yang juga dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit, hutan jelatang sudah mulai berkurang dan berganti dengan vegetasi ilalang serta pohon-pohon kecil. Di beberapa tempat arealnya lebih terbuka. Pada saat cuaca cerah di sebelah barat Anda dapat melihat pemandangan Gunung Rinjani, Pulau Moyo dan Pulau Satonda. Areal di Pos 5 cukup terlindung dari angin karena pohon-pohon yang mengelilingina. Disini juga terdapat pondok sederhana.

bibir kawah

bibir kawah

Kemudian pendakian menuju bibir kawah atau puncak kembali dilanjutkan. Semakin mendekati zona puncak perlahan-lahan vegetasi berubah dari pepohonan menjadi jenis tanaman semak dan perdu. Jalur pendakian yang menanjak melingkar berkelok-kelok mengikuti alur punggungan beberapa bukit yang terasa lebih panjang. Namun, pemandangan yang indah dan menakjubkan sudah bisa Anda lihat di sepanjang jalur ini. Tampak dikejauhan puncak Gunung Tambora yang berwarna kecoklatan dan tandus. Sedangkan di sebelah Barat tampak lautan dengan pulau-pulau yang berada disekitar Pulau Sumbawa. Menjelang pagi terdengar kokok suara ayam hutan bersahut-sahutan. Semakin mendekati bibir kawah jalan setapak yang dilalui berpasir dan berbatu-batu. Setelah melintasi sekumpulan pohon cemara terakhir, Anda akan tiba di medan yang berpasir dan artinya kawasan bibir kawah sudah semakin dekat. Hingga akhirnya Anda akan melihat sebuah pemandangan yang fenomenal dan spektakuler. Sebuah kawah raksasa terbentang luas di hadapan Anda.

Pada sebagian dasar kawah tersebut terlihat rerumputan yang tumbuh. Sebuah gunung api kecil yang berada di tengah-tengah kawah semakin menambah eksotis dan spektakulernya Kawah Tambora. Dalam bahasa Bima gunung api tersebut disebut Doro Afi Toi yang artinya gunung api kecil. Pemandangan dinding-dinding kawah yang menjulang tinggi tersebut juga sungguh memukau. Lapisan-lapisan dindingnya menunjukkan betapa dahsyatnya letusan saat itu.

Waktu yang  tepat untuk Pendakian:

Sebaiknya pendakian Tambora dilakukan antara bulan Juli-September, diawal musim kemarau. Pada musim hujan, cuaca disekitar kaldera dan puncak tambora sangat sulit diprediksi. Cuaca yang ekstrim bisa menunda dan membahayakan pendakian

Dasyatnya Tambora
Gunung Tambora termasuk tipe gunung strato vulkanik, gunung tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 4.000 mdpl terkenal dengan peristiwa pada tanggal 5 April 1815 letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah. Ledakan dahsyat tersebut menyebabkan Gunung Tambora dengan ketinggaian di atas 4.000 mdpl menjadi 2.851 mdpl.

Debu halus yang disemburkan dari letusan Gunung Tambora menutupi langit di atas wilayah yang luas sekali dengan radius 200 mil yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi hujan abu di kawasan seluas 900 mil. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 dentuman letusan Gunung Tambora terdengar sampai ke Pulau Bangka (1.500 kilometer) dan Bengkulu (1.775 kilometer) dan gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan gunung ini terdengar sampai Surabaya (600 kilometer) dan mengakibatkan 92.000 orang meninggal dunia

Oleh : Hengky

Gunung Ciremai Aug 26

Gunung Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC). Gunung ini terletak berjauhan dari gunung tinggi lainnya. Mempunyai ketinggian 3.078 Mdpl, merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung Ceremai ada yang menyebut cerme (seringkali secara salah kaprah dinamakan “Ciremai”) secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

kawah ciremai

kawah ciremai

Vegetasi

Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan.

Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.

SATWA

Bangkong bertanduk (Megophrys montana), Percil Jawa (Microhyla achatina), Katak-pohon Emas (Philautus aurifasciatus), Bunglon Hutan (Gonocephalus chamaeleontinus), Cecak Batu (Cyrtodactylus sp.), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus), Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Puyuh-gonggong Jawa (Arborophila javanica), Tenggiling (Manis javanica), Tupai kekes (Tupaia javanica), Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis), Macan Tutul (Panthera pardus), Kancil (Tragulus javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Landak Jawa (Hystrix javanica).

Jalur Pendakian

Untuk menuju puncak Ciremei terdapat 3 jalur yang dapat ditempuh yakni jalur Majalengka, jalur Palutungan dan,jalur Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan yang paling terjal dan terberat, namun jalur ini merupakan yang paling sering dilalui pendaki. Jalur ini memang dikenal lebih menantang buat para pendaki

Desa Linggarjati terletak 14 km dari kota Kuningan. Dari pertigaan Linggarjati berjalan kaki  menuju Museum Naskah Linggarjati tempat bersejarah dimana Bung Karno pernah menandatangani perjanjian Linggarjati dengan Belanda. Sementara pos perijinan pendakian terletak tidak terlalu jauh dari museum.

Pos Penjagaan linggarjati

Pos Penjagaan linggarjati

Sebelum memulai pendakian ada baiknya pendaki menyiapkan bekal terutama air, karena susah sekali memperoleh air selama di perjalanan. Jalur menuju puncak sangat jelas dan banyak tanda-tanda penunjuk jalan, sehingga pendaki pemulapun akan mudah .

Dari pos pendakian, perjalanan akan melintasi jalanan beraspal memasuki kawasan hutan Pinus dan persawahan hingga Pos Cibeunar. Cibeunar merupakan area camp yang cukup aman buat bermalam, karena terdapat sumber air yang cukup melimpah, yang tidak akan ditemui lagi sepanjang perjalanan sampai di puncak. Selepas Cibeunar perjalanan akan melewati perkebunan penduduk hingga memasuki Leuweng Datar.

Leuweng Datar

Leuweng Datar

Dari Leuweng Datar pendaki akan melewati pos sebagai tempat istirahat yakni Sigedang dan Pos Kondang Amis . 2 jam berikutnya pendaki akan sampai di Pos kuburan kuda. Kuburan Kuda merupakan tanah datar yang cukup luas dan cukup teduh sebagai tempat perkemahan. Daerah ini dianggap keramat bagi masyarakat setempat. Setelah Kuburan Kuda, pendaki akan melewati beberapa tempat keramat lagi seperti Ceblokan, Pengalas.

Jalanan akan membesar ketika melewati Tanjakan Bin-Bin dan semakin menanjak lagi ketika melewati Tanjakan Seruni. Jalur ini adalah yang terberat dan melelahkan dibanding yang lainnya. Bahkan pendaki akan menemui jalan setapak yang terputus dan setengah memanjat, dan memaksanya berpegangan akar pepohonan untuk mencapai pos selanjutnya.

Bapatere

Bapatere

Kemudian akan sampai di Tanjakan Bapatere dengan jalur tetap menanjak nyaris tanpa bonus sampai di Batu Lingga. Waktu yang diperlukan adalah sekitar 1 jam lebih. Konon, batu ini pernah dijadikan tempat berkotbah wali songo kepada para pengikutnya . Di dekat batu lingga terdapat sebuah in memoriam pendaki. Menurut kisah pendaki itu tewas karena sesuatu kejadian yang aneh di batulingga. Tepatnya, pada tahun 1999 dan dari ketiga pendaki, hanya seorang yang selamat. Sedangkan dua lainnya tewas dengan mengeluarkan lendir dari mulutnya. Menurut kepercayaan, blok batu lingga ini di jaga oleh dua makluk halus bernama aki dan nini serentet buntet.

Batu Lingga merupakan pos peristirahatan yang berupa tanah datar dan terdapat sebuah batu berukuran besar. Di tengah perjalanan pendaki akan menemui dua pos peristirahatan lagi yakni Kiara Baton dan Sangga Buana. Kemuidian pendaki baru akan memasuki batas vegetasi. Perjalanan berlanjut 2 jam berikutnya sampai di  Pos Pangasinan.

Pangasinan merupakan pos terakhir. Menurut sejarah, pada masa pendudukan Jepang, pengasinan merupakan tempat pembuangan tawanan perang. Mungkin karena itu pada malam malam tertentu, sering terdengar suara jeritan atau derap langkah kaki para serdadu jepang. Dari daerah yang cukup terbuka ini, pendaki dapat menyaksikan bibir kawah yang cukup menakjubkan. Diperlukan waktu satu jam dengan melewati bebatuan cadas dan medan yang tetap menanjak, bahkan harus setengah merayap, untuk sampai di puncak.

Oleh : Hengky Hebat

Pendakian Semeru Aug 05

By : Hengky Hebat

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

semeru

semeru

Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini. Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

RUTE PENDAKIAN

Untuk menuju Gunung yang tertinggi di Pulau Jawa itu, paling mudah dicapai adalah dari arah Malang dengan naik angkot jurusan Tumpang, kemudian berganti angkutan dengan Truk sayur atau Jeep ongkosnya Rp. 30.000 per orang(th 2008) menuju desa Ranupane (2.200 m) dengan melewati desa Gubug Klakah dan Ngadas. Desa Ranupane adalah desa terakhir dan tempat pemeriksaan serta pos perijinan untuk melapor bagi para pendaki untuk naik dan untuk memperoleh surat ijin, dengan perincian, biaya surat ijin Rp.6.000 Karcis masuk taman Rp.2.000,- per orang, Asuransi per orang Rp.2.000,- dan juga terdapat pondok pendaki untuk bermalam dan beristirahat. Selain terdapat Ranu (danau) Pane, disebelahnya tendapat ranu lagi yang namanya Ranu Regulo.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Perjalanan ke Puncak Semeru dimulai dari desa Ranupane menuju Ranu Kumbolo pagi hari pukul 7.00 melalui jalan setapak, jaraknya 13 Km, tidak terlalu terjal dengan memakan waktu sekitan 3-4 jam perjalanan. Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Disini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru.

Tanjakan Cinta

Tanjakan Cinta

Di Ranu Kumbolo ada Pondok Pendaki (shelter) untuk istirahat dan memasak. Daerah ini airnya melimpah dan berada pada ketinggian 2.400 m dari permukaan laut. Ranu Kumbolo memiliki pemandangan yang sangat indah terlebih pada pagi hari bila kita dapat melihat matahari terbit dari celah-celah bukit. Terdapat juga ‘tanjakan cinta’ konon jika pendaki dapat berjalan mendaki tanjakan ini tanpa henti maka konon kabarnya cintanya akan selalu abadi.

Dari Ranu Kumbolo perjalanan dilanjutkan menuju Kalimati (2.700 m) melalui hutan cemara dimana kadang kita jumpai burung dan kijang. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo.

oro oro ombo

oro oro ombo

Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel. Penjalanan ini ditempuh 3 jam jaraknya 10 Km. Di Kalimati kita dapat mendirikan tenda, dan apabila kita membutuhkan air dapat menuju Sumbermani, kearah barat menelusuni

kalimati

kalimati

pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh perjalanan 30 jam pulang pergi. Tetapi dianjurkan kebutuhan air telah dipersiapkan di Ranu Kumbolo.

Hari berikutnya kita langsung menuju Arcopodo.Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati.Pendaki agar sedikit waspada karena biasanya kita akan berjalan pagi-pagi buta sehingga rawan tersesat di  persimpangan setelah padang rumput kalimati. Arcopodo berjarak 2 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Pendaki akan melewati tanjakan yang sangat terjal dan cukup menguras stamina, di apit jurang di kanan- kiri jalan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Naik satu langkah, turun setengah langkah, ada baiknya anda membawa tongkat jika diperlukan. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat beberapa bendera segitiga kecil berwarna merah. Semua barang bawaan sebaiknya tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Jika dari Kalimati sebaiknya pendaki berangkat pk. 00.00.

Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka. Jadi perlu di waspadai angin yang kembali dari kawah, biasanya pk 09.00 pendaki di sarankan untuk segera turun. Karena asap beracun dari kawah tertiup angin  ke arah para pendaki pada jam-jam itu. Konon Soe Hok Gie meninggal di sana.

ASAP BERACUN

Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celsius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celsius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai. Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat.

Trip ke Semeru